Anak Bukan Orang Dewasa yang Kerdil

Ketika anak melakukan kesalahan, kita merasa sedih itu wajar. Ketika anak melakukan perbuatan diluar ekspektasi, seringkali membuat kita kecewa itu juga sangat manusiawi sekali. Karena begitulah fitrah manusia, kurang senang melihat sesuatu yang bertentangan dengan harapan.

Akan tetapi, ketika kesalahan kesalahan sang buah hati menjadikan kita berubah bak seeokor singa yang siap menerkam, atau seorang raja yang harus dipatuhi segala aturannya, apakah ini masih layak? Tentu tidak. Ini berarti kita melakukan kesalahan yang lebih fatal daripada kesalahan yang dilakukan anak. Hal ini juga merupkan indikasi bahwa keikhlasan dalam mendidik anak perlu dipertanyakan lagi. Tidak semua kesalahan anak itu merupakan sebuah kesalahan yang perlu diluruskan cepat, diberikan respon negatif, apalagi sampai melabeli anak dengan sebutan yang tidak pantas disandangnya.
Ummah…
Ketahuilah, seorang ibu ataupun orangtua sangat membutuhkan ilmu mengenai pengasuhan yang benar. Tentunya cara cara pengasuhan yang telah dicontohkan oleh Rosulullah.
Suatu ketika Rosulullah pernah menyuruh Anas bin Malik, pembantunya yang ketika itu berusia kanak kanak melakukan sebuah tugas. Maka pergilah Anas bin Malik memikul amanah tersebut keluar rumah. Akan tetapi, di tengah jalan Anas menemukan temannya asik bermain. Terlupakanlah olehnya tugas tadi. Seperti tabiat anak anak, kemudian ia ikut bergabung dengan teman sebayanya . Beberapa lama kemudian, pemandangan ini disaksikan oleh Rosulullah. Ia melihat Anas begitu asiknya bermain. Terlintas di benak Rosulullah perihal amanah tadi. Beliau pun memanggil Anas dengan lembut seraya berkata “apakah engkau telah melakukan apa yang aku perintahkan tadi wahai Anas?” Alangkah kagetnya Anas. Dia pun menggeleng pelan kepada majikannya. “Lakukanlah tugasmu dahulu” pinta Rosulullah.
Masyaallah… Alangkah indahnya akhlak yang mulia Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Tidaklah beliau berkata kasar, membentak apalagi memukulnya.

Namun hari ini, begitu banyak kita menyaksikan keluarnya kata tergesa gesa. Tak jarang sebutan ‘Nakal’ dilabeli kepada anak yang belum bisa membedakan hal yang baik dan buruk. Termasuk sebutan ‘kurang ajar’, melabeli anak anak yang aktif lagi bijak.

Tahan Dulu
Berpikirlah lagi sebelum mengatakan anak kita atau anak orang lain ‘nakal’ walaupun hanya dalam hati. Pandang dulu berapa umurnya, sejauh mana tauladan telah dilihatnya, seberapa banyak penerapan adab kepadanya. Dahulukan kelembutan dan maafkan mereka. Berikan nasehat baik dan tuntun mereka agar kesalahan itu bisa menjadi proses perkembangan yang tak terlupakan.
Bukankah telah sampai firman Allah kepada kita
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (QS. An-Nisa’ [4]: 5)
Jangan kita tergesa gesa berpendapat negatif tentang ia. Bersabarlah dulu untuk mendapatkan yang sempurna. Karena kesempurnaan itu memerlukan cukup waktu untuk meraihnya. Sementara, sifat kesempurnaan itu sangat jauh dari manusia. Manusia itu tempat kelemahan dan khilaf termasuk kita sendiri. Satu hal yang sangat penting yang sering dilupakan orang tua yakni, “anak bukanlah orang dewasa yang bertubuh kecil”. Pikiran mereka belum tumbuh sempurna, emosional masih dalam tahap perkembangan. Maka tempatkan ia dimana seharusnya ia bertempat. Peliharalah rasa kasih sayang, karena dalam pengasuhan itulah alatnya. Pupuk kesabaran dalam melihat setiap tahap perkembangannya, karena dalam mengoperasikan sebuah alat inilah kuncinya.
Dengan terus bermunajat keapda Allah, mudah mudahan kita selalu diberikan Taufik dalam membersamai para penerus Ummat.

_Marlianti Ummu Jaihan_

Ummu Dahdah, Wanita Calon Penghuni Syurga

Tersebutlah sepasang suami isteri Abu dan Ummu Dahdah. Kehidupan rumah tangga yang telah dinaungi cahaya Islam. Pendidikan langsung yang mereka dapatkan dari Baginda Rosulullah telah menambahkan keberkahan dalam rumah tangga mereka. Mereka adalah sahabat dari kalangan Anshor. Layaknya Anshor yang lain, mereka juga dikenal sangat dermawan.
Rumah mereka nan sejuk berada di dalam kebun kurma yang luas. Panjang mayangnya, lebat buahnya. Itulah harta yang paling membuat orang orang iri di zaman itu. Semakin harta itu mereka sedakahkan, semakin berlimpah ruah yang mereka panen.
Tatkala Abu Dahdah mendengar siraman ilmu dari Rosulullah tentang keutamaan memberikan pinjaman harta di jalan Allah, datanglah Abu Dahdah memelas seraya berkata
“Ya Rosulullah, ibu dan bapakku tebusannya. Apakah jika aku menjadikan kebunku sebagai pinjaman di jalan Allah, apakah aku, isteri dan anak anakku akan masuk Syurga?”
“Ya” Jawab Rosulullah.
“Aku memiliki dua kebun, yang satu di dataran rendah sana dan yang lain di atas sana. Demi Allah, aku tidak memiliki yang lainnya. Aku telah menjadikan keduanya sebagai pinjaman untuk Allah-subhanahu wata’ala-“.
Alangkah haru orang orang yang mendengar penuturan Abu Dahdah. Maka Rosulullah meminta Abu Dahdah menyisakan untuknya, namun Abu Dahdah lebih memilih kebun kebun kurma di Syurga.
Pulanglah Abu Dahdah tergesa gesa. Ia mendapatkan isteri dan anak-anaknya sedang memakan kurma hasil kebun mereka yang luas.
“Wahai Ummu Dahdah, mari berkemas. Kita akan tinggalkan rumah dan kebun ini” Ujar Abu Dahdah ketika kakinya sudah menginjak rumah nan indah itu.
“Ada apa suamiku? Kenapa kita harus meninggalkannya?” Tanya Ummu Dahdah heran menatap suaminya.
Maka abu Dahdah mengatakan alasannya. Dia bercerita perihal beliau bersama Rosulullah tadi.

Lihat! Apa yang dilakukan Ummu Dahdah!
Apakah ia menangis? Mengamuk? Meratapi? Menuntut kepastian balasan?
Tidak…
Dia menjawabnya penuh bersahaja
“Perniagaanmu telah beruntung, semoga Allah memberkahi apa yang telah engkau beli.”
Ummu Dahdah mendekati anaknya yang asik mengunyah korma yang mungkin bagi anak itu, inilah kesempatan terakhir menikmati manisnya korma yang mengenyangkan itu. Dia memasukkan jarinya ke mulut sang buah hati, dikeluarkannya kunyahan itu.
“Nak, berhentilah makan, berhentilah sayang. Sesungguhnya kebun dan isinya sekarang bukan milik kita lagi”
Masyaallah, begitulah ketabahan dan kekuatan iman para sahabiat yang dididik langsung di Universitas Rosulullah. Sikap yang mungkin bagi kita adalah hal yang mustahil. Seolah Ummu Dahdah tidak memikirkan nasibnya malam itu akan tidur dimana? Makan apa? Berteduh dari panas dan badai dimana?
Sama sekali mereka tidak berpikir untuk hidup masa depan. Yang ada adalah bayangan Syurga yang kian menanti, pohon pohon kurma Syurga beserta rumah yang tiada berbanding dengan kesengsaraan hidup di dunia. Itulah ia wanita shalihah Rodhiallahu Anha. Panutan yang justru harus kita teladani di tengah peliknya hidup yang ujiannya sangat kecil dibandingkan mereka. Kalaulah bukan tertancapnya tauhid dan keimanan yang kuat, sulit bagi kita melepaskan kenikmatan dunia. Kenikmatan bak menelan air laut. Semakin diteguk bukan menghilangkan dahaga melainkan semakin haus berkepanjangan.
Semoga kisah Ummu Dhadah ini bisa menjadi suri tauladan yang nyata bagi akhwati fillah. Khususnya dalam keimanan, tawakkal dan taat kepada suami yang hari ini hampir dilupakan para wanita akhir zaman.

_Marlianti Ummu Jaihan_

Sumber:
Dauroh bersama Ustadzah Gustini Ramadhani (penulis tetap majalah al Mawaddah) “Wanita calon Peraih Syurga”

Tidur Bersama Anak, Rutinitas Yang Tidak Boleh Dilewatkan

Salah satu nikmat dari Allah adalah diciptakan Nya tidur sebagai pelepas kepenatan jiwa dan raga. Bahkan tidur yang cukup akan menghindari stress, kegemukan dan menyehatkan. Islam merupakan syariat yang paripurna sehingga adab tidurpun diajarkan. Begitu pula para pakar pendidkan, berbagai rutinitas dianjurkan pula agar dibiasakan kepada anak sebelum tidur. Namun seringkali para orangtua merasa kebingungan dalam memilih rutinitas yang pas mendampingi tidur sang buah hati. Bahkan ada yang berpendapat dua hal ini saling bertolak belakang.
Kali ini kita akan mencoba mengkombinasikan urutan rutinitas yang insyaallah tidak menyelisihi syariat, dan bermanfaat bagi kemajuan pendidikan anak anak kita. Rutinitas seperti ini bisa umahat terapkan mulai dari bayi ya…
1. Gosok Gigi
Sebagaimana kita ketahui, salah satu cara menjaga kesehatan gigi adalah menggosoknya sebelum tidur. Hal ini diharapkan sisa sisa makanan yang masih menempel di gigi tidak mengundang datangnya bakteri. Berikan pengertian kepada anak sejak dini tentang pentingnya menggosok gigi sebelum tidur sesuai bahasa yang ia pahami. Kemudian ajarkan cara menggosok yang benar. Nah, lakukan bersama sama, anda dan anak anak agar lebih semangat.
2. Berwudhu
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَن
“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Foukslah kepada mengapa harus berwudhu’ jika anak kita dibawah 7 tahun. Bagi anak yang telah menginjak umur 7 tahun fokus pula kepada tata cara wudhu sesuai wudhu Rosulullah.

3. Membaca dzikir Sebelum Tidur
Beberapa dzikir yang perlu dibiasakan yakni membaca surat Al ikhlas, Al Falaq, dan An Nas. Kemudian meniupkannya kepada kedua tangan lalu mengusap kebagian tubuh yang bisa dijangkau. Lalu lanjutkan dengan membaca ayat Kursi. Kemudian ditutup dengan dengan doa sesuai yang dicontohkan Rosulullah
Dari Hudzaifah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)
Bagaimana membiasakan bagi anak yang belum bisa menghapalnya? Anda cukup memperdengarkannya dengan bacaan anda saja. Jika ia berada dalam satu kamar dengan anak yang telah hapal, maka anda bisa menyuruh kakaknya untuk membaca. Insyaallah setiap anak akan merekam bacaan ini, dan tanpa tersadari kemudian hari sangat mudah ia menirukannya. Seperti halnya berwudhu, fokuslah kepada manfaat dzikir bagi anak dibawah umur tujuh tahun. Koreksi bacaan bagi yang telah menghapalnya. Ingat ya, dzikir ini dibaca saat pikiran anak anak masih fresh. Bukan pengantar tidur.

4. Bercerita sebelum tidur
Mungkin sangat familiar bagi kita dengan kalimat “dongeng sebelum tidur”. Hal ini selain bermanfaat menstimulasi perkembangan verbalnya, juga bermanfaat mengikat emosional anak. Anak anak yang terbaiasa diajak bercerita akan sangat mudah berkomunikasi kedepannya. Yang paling penting adalah membangun kedekatan yang luar biasa antara orangtua dan anak. Agar cerita lebih berfaidah, maka hendaknya kita mencari cerita cerita nyata yang bisa diambil hikmahnya. Banyak cerita para nabi dan orang sholeh yang bisa kita angkat. Perhatikan juga kecendrungan anak agar cerita kita lebih memikat. Anda juga bisa menyuruhnya memilih topik yang ia inginkan.
Contoh: ketika anak meminta anda bercerita perihal ikan, anda bisa menyuguhkan cerita Nabi Yunus dan Ikan Paus atau Abu Ubaidah dan Ikan Paus sebesar bukit.
Nah inilah yang dimaksud pengantar tidur. Biasanya mereka akan mulai lelap mendengar cerita kita. Tetaplah bercerita hingga ia benar benar merasakan kantuk. Nah saat ini anda sudah boleh mengrahkan mereka agar menghadapkan tubuh ke kanan.
5. Sounding
Sounding adalah proses pemberian kata positif,tetapi dilakukan pada pikiran bawah sadar yang akan sangat mempengaruhi perilaku anak sesuai dengan apa yang dikatakan. Kenapa harus di piikiran bawah sadar? Karena perilaku seseorang dikendalikan oleh 88% pikiran bawah sadar dan hanya 12% pikiran sadar .
Nah, setelah anda bercerita kepada anak, perhatikan kondisi anak. Apakah mereka mulai tidur dan meninggalkan alam nyata? Disaat itulah waktu tepat dilakukan sounding. Ingat ya, waktunya bukan saat anak telah tertidur pulas. Bisikkan kepada mereka harapan apa yang ummah inginkan. Seperti “Nak, kamu baik. Kamu ga akan cepat marah”,

Nah umahat, mudah bukan? Atau terlalu ribetkah? Insyaalah tidak jika dibarengi dengan niat dan usaha yang baik. Selamat mencoba!

AKHIR DUKA DI RUMAH POHON

BY: Dzakiyyah Jaihan

(PART: 30)
Panas telah mereda. Perut tambah keroncongan. Perut perut mereka siap menunggu buah buahan yang diambil oleh om Fahmy. Tadi om Fahmy memang sengaja dipanggil Asad. Karena om Fahmy juga sangat kelaparan, ia pun menuju pohon yang mereka maksud.
Ada beberapa jenis pohon yang berbuah disana. Yang pertama mirip cempedak hutan. Pohonnya menjulang tinggi keatas. Pohon yang satu lagi memiliki buah berwarna merah tua, manis asam rasanya. Pohon terakhir adalah tanaman rendah. Akan tetapi karena tak pernah melihatnya, mereka tidak tahu kalau ternyata buah itu bisa dimakan. Kata om Fahmy itu adalah buah ciplukan. Manis jika masak, tapi sangat asam jika masih berwarna hijau.
Akhirnya om Fahmy dengan bantuan Asad selesai memanjat. Banyak sekali buah yang telah di petik. Dalam sekejap satu persatu buah buah itu lansung habis. Mereka melahap bak seekor singa yang kelaparan.
“kalian ini. Sudah nggak bantu metik, malah kalian yang banyak makan buah. seharusnya yang banyak makan buah itu aku dengan om Fahmy, bukan kalian.” Kata Asad merengut.
“iya, iya.” Kata Ikrimah santai.
“sudah sudah. Nggak usah bertengkar. Kita ini sama sama lapar.” Kata om Fahmy mengadili.
“Coba kita bisa buat rumah pohon. Mana tahu kita bisa memetik Buah dengan mudah.” Kata Omar.
“kita cuman bisa memetik buah dengan mudah di syurga. Mau sambil baring, duduk, berdiri. Ranting dan batang pohon yang ingin kita petik buahnya akan mendekat lansung ke kita. Terus, ketika kita pegang, buahnya lansung terlepas dari ranting.” Jelas Ikrimah.
“wah.. Masyaallah… enak ya di Syurga..” kagum Asad.
“kalau di surga sudah pasti enak, jadi jangan di tanya lagi enak apa nggak.” Kata Ikrimah.
“Tapi kalau kalian mau merasakan bagaimana rasanya di rumah pohon, Om akan buatkan kalian rumah pohon. Tapi dengan syarat, kita harus bekerja sama.” Kata om Fahmy.
“wah…asik!!” teriak para petualang gembira.
“oke om… pasti kita akan bantu, tapi pakai apa bikinnya? Kan ga ada papan dan paku” kata Omar.
“kita bisa gunakan dahan pohon yang sudah mati disini. Kan ga perlu bagus? Yang penting kalian bisa duduk diatasnya. Kalau paku dan martil ada kok di Chameleon” Om Fahmy menjelaskan.

Bergegas lah Omar dan om Fahmy menuju Chameleon mengambil peralatan. Asad dan Ikrimah juga Amaroh mulai mengumpulkan Dahan pohon yang bersebaran dihutan itu. Mereka memilih batang pohon yang patah dan mati, agar hutan tetap lestari.

Sepuluh menit kemudian om Fahmy datang. Om Fahmy memanjat pohon yang memlilki dahan yang kuat. Diukurnya jarak dahan ke pohon. Lalu mereka mulai memotong kayu yang layak pakai sesuai ukuran yang telah diukur tadi. Ikrimah di tugaskan membuat pola rumah pohon yang sederhana. Tak disangka ia ternyata memiliki keahlian pertukangan juga!Hari terasa mulai gelap, sebentar lagi senja menyelimuti belantara hutan itu. Rumah pohon harus selesai sebelum matahari tenggelam.

Akhirnya rumah pohon sederhana selesai dibuat. Ikrimah tampak begitu ahli dalam pertukangan. Sederhana tapi cukup rapi. Rumah mereka tanpa dinding. Cuma ada lantai dan tiang disetiap sudutnya untuk meletakkan atap. Sebagai atap mereka gunakan tenda milik Asad. Sedangkan Omar, Asad, dan Amaroh tampak menyelesaikan tangga untuk menaiki rumah pohon.

Waw… Rumah pohon telah bertengger perkasa. Mereka segera menaiki Rumah pohon sederhana itu. Terlihat gurat senang diwajah mereka. Semua berdecak kagum. Om Fahmy ikut senang melihat mereka. Senyumnya kian merekah. Hari mulai gelap. Akan tetapi rumah pohon tidak cukup menampung mereka semua. Maka, mereka terpaksa mendirikan tenda Omar di bawah.

Malam yang indah dengan sinar purnama diatas sana. Menerangi kegelapan malam di belantara hutan. Mereka tidak perlu membuat api karena sinar rembulan menembus dinding tenda dan mengendap langsung diatas rumah pohon. Berkali kali mereka mengucapkan pujian kepada Allah sebelum terlelap.

***

Pagi kembali mengantarkan matahari. Setelah sholat subuh para petualang berkumpul diatas rumah pohon. Sementara om Fahmy berkeliling mencari buruan berupa ayam hutan.

“kira-kira apa isi Rumah pohon yang di jadikan orang tempat belajar, bermain, dan tempat tinggal itu?” tanya Asad penasaran.
“Amaroh pernah baca di Internet. Kalau rumah pohon yang di jadikan tempat tinggal itu ruangannya sama dengan rumah biasa. Kalau isinya juga sama dengan rumah biasa. Kalau tempat bermain, isinya tikar dan mainan. Kalau tempat belajar, isinya meja kecil, tikar, terkadang juga ada kasur dan bantal.” Jawab amaroh.
” Mungkin zaman dahulu, ketika pedesaan belum dibuka manusia tinggal dalam rumah seperti ini ya?” Pikir Omar sambil mengedarkan pandangan keatas pohon yang rindang.

” Mungkin saja, karena mereka perlu berlindung dari binatang buas” sambut Ikrimah menggosok bagian tiang dengan daun tebal.

” Terbayangkan gimana susahnya hidup orang dahulu. Seperti kita sekarang. Cuma bisa makan buah dan menunggu buruan” Amaroh bergumam.

” Eh, masih ada kok suku pedalaman yang masih tinggal dalam hutan di kampung ibuku. Namanya suku talang mamak” seru Asad menarik perhatian teman temannya.

” Wah… Dimana itu?” Tanya Amaroh berbinar.

” Di hutan dekat Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Indragiri Hulu. Mereka membuat rumah panggung dalam hutan.” Jelas Asad

“Wah, aku pernah dengar. Mereka tidak mau tinggal di desa karena mereka hidup dan bersahabat dengan alam katanya. Mereka tidak mau merusak alam karena memiliki kepercayaan pada makhluk gaib. Mereka menganggap setiap benda ada penunggunya” terang Ikrimah mengehentikan kegiatannya tadi.

” Iya benar. Makanya mereka ga mau sembarangan menebang pohon dan membunuh bintang disana.” Lanjut Asad.

“Papa…!!!” teriak Omar tiba tiba. Amaroh langsung mengarahkan matanya kearah pandangan Omar. Dia gelagapan turun mengejar lelaki yang muncul dari balik dedaunan hutan. Amaroh melompat, hap… tangan besar papa lansung menangkap Amaroh. Amaroh menangis tersedu sedu dalam pelukan Professor Abdullah. Omar segera menyusul. Sang papa mengusap dan mencium kepala kedua anak sholeh itu.

“ayo sini, kalian pasti laparkan?” seru papa kepada Asad dan Ikrimah yang masih diatas. Merekapun lalu turun.
“iya pa, kami lapar.” Jawab Omar.
“ayo ikut sama papa. Papa ada makanan buat kalian semua.” Ajak papa.
Mereka pun mengikuti papa. Papa memberikan mereka makanan yang sangat lezat. Ada roti, pizza, sosis, dan makanan lainnya.
“sejak kapan papa datang?” tanya Omar.
“sejak jam 06.00.” jawab papa.
“wah… subuh subuh sekali paman datang.” Kata Ikrimah sambil menggigit pizza . Professor Abdullah tersenyum, masih ada genangan air mata di sudut matanya.

” Iya, Om sama mekanik ini mencari cari kalian dulu dihutan ini dengan Chameleon super yang kami tumpangi. Kami cari dari atas. Baru kelihatan chameleon jam 8.00 tadi”

“Jadi Om Fahmy tadi ga jadi berburu?” Amaroh memandangi Pilot Chameleon ngikik.

” Tidak, karena waktu Om mau mengambil senapan dalam Chameleon om mendengar suara Chameleon super. Lalu Om naik ke atas Chameleon dan mengibarkan bendera” kata Om Fahmy sambil memutarkan jarinya keatas.

Tepat jam setengah sepuluh pagi, Chameleon sudah kembali bagus dan membaik. Dengan semangat mereka menaiki Chamelon Jet. Sedang kan Papa Omar menaiki Chameleon super. Mereka membelah benua menuju Pekanbaru. Hm… beda ya..? ya beda dong.. Chameleon super itu Chameleon paling cepat dari seluruh Chameleon. Jadi Chameleon itu banyak? Ya, Chameleon itu jumlahnya banyak. Chameleon Super ini khusus untuk membawa montir-montir Chameleon. Dia dipakai ketika keadaan darurat. Di dalam Chameleon super ini pun banyak alat melebihi Chameleon.

~TAMAT~

Sampai jumpa di tahun depan. Tunggu cerita petualangan mereka selanjutnya ya…
Wassalamu `alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

SHINOBI VS SUPERHERO ISLAM

BY: Dzakiyyah Jaihan

(PART: 29)
Sinar matahari mulai menyengat dibalik dedaunan hijau. Namun dedaunan yang hijau telah menaungi tubuh para petualang. Sehingga mereka tidak kepanasan dan merasa sejuk. Terasa perut yang kian keroncongan. Tenggorokan mulai kering kerontang. Menjadikan tubuh mereka melemah.

Mereka baru sadar ternyata ujian belum berakhir. Justru ujian baru saja dimulai. Asad mengeluarkan smartphone hendak menelpon, tapi tiada jangkauan signal disana. Om Fahmy tampak termenung. Dia menatap Chameleon dengan tatapan kosong.

” Om ga bisa perbaiki ya?” Tanya Omar memecah lamunannya.

” Ada alat yang perlu diganti” Om Fahmy menoleh. Omar tampak khawatir. Tapi Om Fahmy cepat menghibur.

” Waktu Chameleon mulai terasa goyang, om sempat melayangkan berita sama papa kamu. Koneksi terputus beberapa menit sebelum kita mendarat. Insyaallah, tidak akan begitu sulit dia menemukan kita” Om Fahmy mengusap kepala Omar.

” Sebenarnya ada apa dengan Chameleon om?” Tanya Asad mendekat.

” Kerusakan mesin kemaren berlanjut, ditambah radar kita tidak berfungsi baik. Om lupa memeriksa sewaktu di Jepang kemaren. Mohon bantuan doanya ya” Tutur pilot itu penuh harap. Mereka menganggu pelan. Ada harapan yang besar papa Omar akan datang segera membawa peralatan dan mekanis.
“om kami mau berkeliling di sekitar sini dulu ya..” kata Asad kepada om Fahmy.
“iya, boleh. Tapi jangan jauh-jauh dan jangan sampai terpisah.” Kata om Fahmy.
“iya om..!” seru Omar, Asad, Ikrimah, dan Amaroh kembali ceria.
Sebenarnya mereka ingin mencari buah-buahan untuk di makan ataupun sumber air. Hutanpun disusuri. Mereka terus berjalan membelah belukar. Melihat-lihat ke atas ranting-ranting pepohonan. Hingga sampailah mereka di tepian sungai kecil. Di tepi sungai itu ada tanah yang cukup lapang. Pepohonan di tepi sungai itupun berbuah lebat. Mereka ciduk air di sungai itu. Tapi mereka tak bisa mengambil buah buah yang bergelantungan di ranting pohon. Karna buah-buah itu berada di atas pohon pohon yang tinggi dan besar.
“ah..! Alhamulillah…! tenggorokan ku basah lagi dan hausku telah hilang.” Syukur Ikrimah.
“Hausku juga sudah hilang. Hanya saja laparku belum hilang.” Kata Asad.
“yang pentingkan kita sedikit bertenaga.” Kata Omar.

“Sungai ini mengingatkan ku dengan ninja dan Naruto.” Kata Asad.
Semua melirik ke Asad.
“mengingatkan apa?” tanya Omar.
“ninja itu bisa berlari dan bertarung di atas air. Ninja itu juga bisa berjalan di atas air. Ha.. sungguh hebat.” Jawab Asad. Dia bisa membayangkan betapa hebatnya Ninja Ninja di film itu.
“Aku tahu Ninja-Ninja itu beneran ada. Dan mereka memiliki jurus. Tapi bukan jurus seperti yang ada di Film Naruto. Mereka masih kalah jika di bandingkan dengan Sa`ad bin Abi Waqas dan pasukannya.
Seperti yang pernah aku ceritain kemarin-kemarin. Saad dan pasukannya itu bisa berjalan di atas air tanpa jurus dan tanpa belajar. Sedangkan para Ninja itu memakai jurus dan perlu belajar. Para ninja itu juga harus serius ketika berlari dan berjalan diatas air. Karna jika mereka melakukan kesalahan, mereka akan tenggelam. Sedangkan Saad dan pasukannya tidak serius dengan suasana sekitar. Mereka bahkan saling bercakap-cakap di atas air.” Jelas Ikrimah panjang lebar.
“bedanya Ninja itu yang melakukan kungfu itu kan?” tanya Amaroh penasaran.
“Ninja itu dari jepang. Sedangkan Kungfu itu dari china. Ninja itu dalam bahasa Jepang disebut Shinobi yang terlatih dalam seni Ninjutsu. Jadi seperti Naruto kan? Di Film Naruto ada dikenal Shinobi dan Ninjutsu. Tapi Shinobi ini keahliannya bukanlah membunuh, tapi menyusup. Jadi keahlian Shinobi yang sebenarnya adalah menyusup. Sedangkan Kungfu adalah salah satu seni tempur yang sangat kuat. Yang keahliannya memang membunuh orang.” Jawab Asad menjelaskan.
“hey..! teman-teman..!! ayo kita bertarung menggunakan pedang mainan!” ajak Omar yang sudah berada di tempat ranting ranting yang cukup besar dan tebal. Dia mengumpulkan ranting ranting besar.
Mereka segera merubunginya.
“kita mau bikin pedang mainan? Ya harus dibentuk dulu dong..! mana pisau untuk membentuknya?” tanya Asad, dia mengerutkan keningnya.
“nih.” Jawab Omar seraya memperlihatkan tiga buah pisau.
“kapan kamu mengambil pisau dari Chameleon?” tanya Ikrimah terheran heran.
“tadi, sebelum kita kesini. Aku sudah minta izin kok sama om Fahmy..” jawab Omar.
Mereka pun mengambil pisau pisau yang ada di tangan Omar. Amaroh tidak ikut membuat pedang mainan. Dia lebih suka bermain dengan ku.
Satu persatu pedang mereka jadi.
“aku sudah selesai membuat pedang..!! hah… lihat pedangku melengkung lengkung.” Kata Asad seraya melihatkan pedangnya yang bertubuh lengkung.
“ini pedangku sudah selesai..!!” kata Omar seraya melihatkan pedangnya yang besar.
“besar sekali pedangmu omar..!” kata Asad takjub. Matanya berbinar binar melihat pedang Omar.
“Hm, hm. Ini adalah pedang kapten Zak.” Kata Omar memamerkan pedangnya.
“memang seperti pedang Zak. Tapi tengkoraknya nggak ada. Hahaha…!!” kata Asad seraya tertawa terbahak-bahak.
“ah..! sudah..” kata Omar tampak pusing dengan cemooh Asad.
“pedangmu sudah selesai Ikrimah..?” lanjut Omar bertanya kepada Ikrimah.
“belum, kalian duluan saja bermainnya.” Jawab Ikrimah.
“ya, sudah.” Kata Omar.
Lalu Omar pun memulai pertarungan dengan Asad.
“aku kapten Zak..!!!” kata Omar dengan suara keras.
“aku Ninja yang paling hebat di seluruh dunia…!!!!” teriak Asad membalas teriakan Omar.
“hah..! kalu aku menguasai bela diri dan menguasai jurus-jurus Ninja, aku mau jadi superhero ah..” lanjut Asad.
“sekarang pun kamu bisa jadi superhero. Nggak perlu nunggu punya jurus dan menguasai bela diri dulu. Kamu tolongin saja orang-orang di Palestina, Suriyah, dan daerah-daerah yang berada di SYAM. Mereka kini dibom oleh kaum Yahudi.” Kata Omar.
“gimana caranya aku nolongin mereka?” tanya Asad bingung.
“kamu kirim dan sedekahkan uang, baju, mainan, buku pelajaran, dan benda yang berguna kepada mereka.” Jawab Omar.
“oh..! gitu.” Asad menggarukkan kepala.
“Kaum Muslimin juga punya Superhero yang terkenal.” Teriak Ikrimah dari jauh.
“hah? Siapa?” tanya Omar dan Asad.
“banyak. Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Muawiyah bin Abu Sufyan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Umar bin Khattab, Hamzah bin Abdul Muthalib, Syurahbil bin Hasanah, dan masih banyak lagi.
Khalid bin Walid itu badannya penuh dengan luka. Entah karna sabetan pedang, lemparan anak panah, dan hunjaman tombak. Tidak ada sejengkal pun di tubuhnya yang tersisa melainkan terisi berbekas luka-luka.
Jika kaum kafir mendengar namanya, mereka lansung takut dan ingin mundur. Dia itu sangat kuat dan lihai menunggang kuda. Sekali tebas orang, orang itu lansung mati. Makanya dia dijuluki oleh Rasulullah dengan Pedang Allah yang terhunus” kata Ikrimah.
“wah.. masyaallah sungguh hebat..!!” kagum Asad.
“nih pedangku sudah selesai namanya pedang Khalid…!!!!” Ikrimah berteriak sekencang-kencangnya.
“Wah.. tajam sekali kelihatannya pedang mu.” Kata Omar memandangi pedang Ikrimah.
“ha.. perkataanmu mengingatkan ku dengan Zubair bin Awwam, dia juga seorang superhero Islam.
Pernah suatu ketika dia berperang. Dia melihat seorang lelaki yang berpakaian besi dan topinya pun terbuat dari besi. Lelaki itu membunuh banyak orang islam. Lalu dia pun menyerang lelaki itu. Dibelahnya lelaki itu dari topinya hingga badannya terbelah menjadi dua. Orang-orang yang melihatnya berkata. “tajam sekali pedangmu”.
Zubair pun marah. Dia berkata, “bukan pedangku yang tajam, tapi tangan ku yang kuat. Sehingga aku bisa membunuh lelaki ini”” tutur Ikrimah.
“wah..!! Masyaallah..!! betapa hebatnya Zubair..!!” kagum Omar dan Asad.
Lalu mereka pun melanjutkan pertarungan. Khalid melawan Zak dan Ninja. Wah,wah, wah… Sepertinya mereka telah melupakan perut yang kosong.

JATUHNYA PESAWAT KAMI

BY: Dzakiyyah Jaihan
(PART: 28)

Bumi masih kelabu. Langit gelap hanya ditemani kerlipan bintang bintang. Orang-orang masih terbuay dalam mimpi. Disaat seprti ini lah para petualang melanjutakan safari mereka.

Mereka sudah mengenakan safety belt, bersiap menahan keseimbangan badan saat Chameleon curam keatas. Beberapa detik saja, chameleon dibawa terbang ke angkasa oleh pilot Fahmy.

Tak menarik perhatian mereka pemandangan kali ini. Mereka hanya duduk bersandar dengan balutan jaket tebal. Beberapa masih tampak hendak menyambung tidurnya. Chameleon bergerak ke arah utara dengan cepat dan perkasa. Dia makin meninggi meninggalkan bumi.

Belum lama mereka di dalam Chameleon, sekitar 10 atau 15 menit, Chameleon bergemetaran. Gerakan tak biasa itu mengundang perhatian para penumpang. Semua mulai memusatkan perhatian kepadanya. Mereka saling berpandangan. Getarannya semakin kencang. Kini Chameleon terasa meliuk liuk.

” Abang, Amaroh takut” Amaroh tampak menahan air mata karena khawatir.

” tenang Amaroh. Om Fahmy belum ada bilang apa apa. Insyaallah akan baik baik saja” hibur Omar tenang.

” Kayaknya ada yang aneh” desah Asad. Dia memandangi atap Chameleon yang terasa bergoyang goyang.

” Subhanallah. Pirasatku ga enak” celetuk Ikrimah pula.

” Pasang pelampung, kita akan berusaha mendarat di atas lautan”

Suara Om Fahmy terdengar kecut dari Sepekaer. Suara itu menjadikan tubuh para petualang menggigil. Hening sejenak.

” Hua…. Abang…” Ledakan tangis Amaroh. Yang lain segera mengambil pelampung di rak atas kabin dengan kesusahan. Omar mengambilkan untuk adiknya.

” Ayo, abang bantu” Omar langsung memakaikan pelampung ke tubuh Amaroh. Dia tak menghiraukan tangisannya.

” Qodarullah. Semua kehendak Allah. Tidak ada yang bisa menolak musibah seperti apapun kehebatan jet dan pilot kita” Ikrimah tampak tegar dalam kekhwatirannya.

Tiba tiba badan Chameleon terasa turun drastis, menurunkan otot otot perut mereka. Membuat gamang. Semua reflek berteriak. Badan chameleon lalu berbalik beberapa detik. Untung saja mereka mengencangkan safety belt sehingga tidak ada yang jatuh. Amaroh menangis sekencang kencangnya saat nampak api muncul di bagian luar ekor Chameleon.

” Amaroh… Tenang.” Teriak Omar menahan keseimbangan tubuhnya.

” Ya Allah…. Aku ga tahu harus bagaimana meredam detak jantungku” gumam Asad, mata lelaki kuat itu tampak memerah ketakutan.

” Dzikir, semua dzikir. Ucapkan hasbunallahu wa ni’mal wakiil. Kalau Allah takdir kan kematian kepada kita, insyaallah kita akan syahid” seru Ikrimah memecah ketakutan mereka.

” Ucapkan lagi Ikrimah, biar kami ikuti. Kami sudah lupa karena ketakutan” Pinta Omar yang juga dengan linangan air mata.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ،

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ، فَلَا تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ،

Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Pemilik ‘Arsy yang besar. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Pemilik langit dan bumi dan Pemilik ‘Arsy yang mulia

Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim

Ya Allah, Rahmat-Mu yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata. Perbaikilah untukku urusanku semuanya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Engkau.”

Ikrimah mentalkilkan. Semua beringsut tenang walau masih ada pipi yang basah. Mereka membaca berulang ulang melupakan suasana Chameleon yang hancur. Tidak tahu apa penyebabnya. Chameleon terasa begitu berat mendaki. Namun mereka belum juga bisa mendarat di atas laut. Padahal jenis jet ini adalah jet jenis amphibi ( Dapat mendarat di darat dan juga di air) , dan didukung dengan sistem VTOL (Vertical take off and landing), tinggal landas dan mendarat secara vertical. GPS dan ILS, pemandu pendaratan bagai tiada guna hari ini.

Tiba tiba suara gesekan terdengar di balik dinding. Dengan keahliannya, om Fahmy bisa mendaratkan mendadak Chameleon secara vertikal. Empat sekawan itu merangkak keluar dibantu pegangan sisi dinding dan sandaran menuju pintu. Mereka saling membantu meraih tangan. Om Fahmy menunggu di pintu. Ia keluar dari pintu depan dengan memanjat. Ditariknya tangan para petualang satu persatu.

Chameleon berdiri diantara pepohonan besar layaknya pohon yang tumbuh. Om Fahmy tampak mengitari Chameleon memastikan tidak ada bagian luar yang rusak karena dahan pohon setelah melihat semua penumpang sehat dan selamat.

Dengan nafas terengah engah mereka duduk di sisi chameleon yang menancap keatas beberapa saat. Kemudian pindah menjauh beberapa meter atas saran om Fahmy. Mereka duduk dibawah pohon besar. Merasakan dan menghayati hikmah besar di pagi ini. Semua bersyukur kepada Allah. Mereka mengucapkan puji berkali kali. Semua takdir Allah pasti ada hikmahnya.

Betapa terkejutnya mereka ketika melihat pohon-pohon raksasa tersebar di hutan tersebut. Mengelilingi mereka. Dari celah dedaunan tampak sinar mentari mulai hangat. Asad melirik jam tangannya. Pukul 07.05 waktu Jepang. Ternyata mereka hampir dua jam berada atas Chameleon.

“Masyaallah… Allah menginginkan kita melihat alam hutan ini” Ikrimah menghela nafasnya panjang. Dia berdiri membentangkan tangannya.

“Se..sebenarnya kita berada di mana? Be..be.. betapa besarnya pohon-pohon ini.” Kata Omar terbata-bata mengusir debaran jantungnya.
“aku nggak tahu ada di mana.” Kata Asad.
“tapi pohon pohon ini tak sebesar pohon-pohon yang ada di California.” lanjut asad berdiri disamping Ikrimah.
“ha? Ada pohon yang lebih besar dari pohon pohon ini!” kata Omar kaget, jantungnya mulai normal
“ya, pohon pohon itu bernama General Sherman. Volumenya sekitar 1.487 meter kubik, tingginya mencapai 83 meter, kelilingnya 31 meter. Dan usianya kini berkisar 2.300 hingga 2.700. Katanya kalau ditimbang bisa mencapai 1250 ton.” Asad memegang pohon, tampak tangannya kecil sekali.
” Tapi pohon itu tidak akan melebihi besar pohon-pohon yang ada di syurga. Memang tidak di ketahui umurnya, beratnya, tingginya. Tapi orang yang mengelilingi pohon itu membutuhkan waktu yang lama. Orang yang paling cepat baru bisa menghabiskan waktu 100 tahun buat mengelilinginya. Tanpa berhenti sedetik pun.” Jelas Ikrimah.

“Wah.. Masyaallah besar sekali ya pohon itu..” kagum Amaroh.

Lalu mereka pun mengelilingingi dan menyusuri pohon pohon raksasa itu di sekitar Chameleon Jet.

“Gimana perasaan kalian”

Tiba tiba om Fahmy muncul dari balik pohon.

” Sedikit lega”

kata Omar mengulum senyum. Amaroh semringah.

“Alhamdulillah, sebaik baik kita adalah selalu bersyukur dan mengingat Allah dalam keadaan lapang dan sempit” om Fahmy puas dengan reaksi mereka .

” Ya, jangan kita seperti umumnya orang yang disebutkan dalam ayat ini

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
[العنكبوت: 65]

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al-Ankabut: 65).”

Semua tampak mentadabburi potongan ayat yang dibacakan Ikrimah. Om Fahmy memeluk Ikrimah haru, ada genangan air di pelupuk matanya.

WARNA WARNI MALAM

BY: Dzakiyyah Jaihan
(PART: 27)

Matahari kembali keperaduannya. Meninggalkan cahaya merah nan sendu. Jam lima sore tadi festival baru selesai. Rasanya sangat lelah bila melanjutkan perjalanan. Mereka pun menginap di hotel yang memang sudah dipesan sebelumnya.

Amaroh dan Omar memesan kamar double single bed. Mereka membenamkan tubuh di masing masing ranjang nya. Melepas kepenatan sambil menatap langit langit kamar. Asad dan Ikrimah dikamar nya pula. Sedikit serupa, mereka menjadikan tempat tidur sebagai muara keletihan. Sebuah SMS masuk di smartphone Asad dari Pilot Fahmy. Begitu juga di smartphone Omar. Pesan masuk dengan redaksi yang sama.

” Kita makan jagung bakar nanti ya. Om tunggu lepas Maghrib di lobby”

***

Malam itu begitu kemilau. Hampir tidak berbeda siang dan malam karena cahaya lampu menaungi kota Saga. Omar, Asad, Ikrimah, dan Amaroh memilih kursi pelanggan yang telah disediakan. Tak jauh berbeda dengan Indonesia. Kota saga dipenuhi warung Jagung bakar di sepanjang jalan.

Om Fahmy segera memesan jagung bakar dan minuman sesuai selera para petualang. Tempat mereka tidak jauh dari tempat festival balon udara diadakan. Mungkin sekitar 100-150 meter jaraknya. Masih tergambar dipikran mereka jejak jejak balon sore tadi.

Seorang pelayan tiba dengan semerbak aroma jagung bakar. Diedarkan pesanan dimeja. Sebentar saja, jagung tinggal tungkal tungkalnya. Om Fahmy sudah menghabiskan dua jagung bakar. Omar sudah menghabiskan empat jagung bakar. Asad sudah menghabiskan lima jagung bakar. Ikrimah sudah menghabiskan tiga jagung bakar. Amaroh sudah menghabiskan dua jagung bakar. Wah berapa jadinya ya semuanya? Ya, benar 16 buah. Kalau dirupiahkan sudah sebanyak 220.000 om Fahmy mengorek kantong nya. Belum lagi minuman.

Tuarr…. tuar…. tuar…!! tiba-tiba ada suara ledakan dari atas langit hitam. Semua mengadah ke atas langit. Ada warna warna yang indah di atas langit malam. Wah… ternyata ada kembang api!

“indah sekali ya..” kata Amaroh.
“benar. Begitu indahnya kembang api itu, bewarna warni. Ada warna merah, Oranye, kuning, hijau, ungu, dan pink.” Kata Asad.
“masya allah… Padahal tadi ku kira balon udara meletus” kata Ikrimah, sontak temannya memuntahkan tawa.
“hmm… kembang api itu sebenarnya apa?” tanya Omar menatap letupan yang besar.
“kembang api itu adalah bahan peledak berdaya ledak rendah piroteknik” Jawab om Fahmy.
“mengapa kembang api itu menghasilkan warna?” tanya Asad.
“karena ada campuran senyawa logam berukuran kecil yang di masukkan dalam serbuk kembang api. Warna merah membutuhkan senyawa logam Strontium, sementara untuk warna biru membutuhkan logam tembaga. Nantinya, logam-logam itu akan dibentuk bola kecil-kecil seukuran kedelai (hingga kelereng) dan di letakkan secara terpisah dari serbuk peledak kembang api. Nah, saat kembang api itu dinyalakan, serbuk peledak akan menerbangkan kembang api itu ke Angkasa.” Lanjut om Fahmy memberikan penjelasan ilmiahnya. Omar tidak bergidik, dia begitu serius mencerna. Kalau udah cerita Fisika, begitulah sikapnya. Tapi dia masih tampak belum puas.

” Di saat yang sama, api dari sumbu akan terus terbakar hingga menjalar ke bagian atas tempat campuran-campuran senyawa logam disimpan. Dan saat itu lah muncul ledakan yang memancarkan api warna-warni ke segala penjuru.” om Fahmy menyempurnakan lagi.

Omar dan Asad mengangguk pelan. Sementara Ikrimah mengernyitkan dahi.
“bedanya kembang api sama petasan apa sih??” tanya Amaroh penasaran.
“Petasan hanya meledak di darat, ga ada warnanya. Kalau kembang api adalah benda yang mirip sama petasan. Tapi meluncur ke atas, meledak di udara, kemasannya menarik, warna warni full desain, bikinan luar negri.” Jawab Omar menjelaskan.
“oh… begitu ya..” Asad, Ikimah, dan Amaroh tampak paham.
“eh kita beli kembang api yuk..! tuh di sana ada jual kembang api.” Ajak Asad seraya menunjuk ke pedagang penjual kembang api di seberang jalan.
“percuma. Nggak ada gunanya. Sama saja seperti bakar uang. Kan kembang api itu dibakar.” Kata Ikrimah.
“loh. Jagung ini juga dibakar.” Kata Asad seraya menunjuk jagung bakar.
“beda.. jagung itu memang dibakar. Tapikan setelah itu dimakan. Kita jadi bertenaga dan kenyang. Dari pada kembang api. Sudah tidak mengenyangkan dan tidak membuat kita bertenaga. Tambah lagi tidak berguna, menghabiskan uang kita saja. Kan sama saja seperti membakar uang.” Jelas Ikrimah lebar.

” Selain itu, kembang api dan petasan juga berefek buruk bagi lingkungan. Bisa menyebabkan kebaran, polusi suara, dan mempunyai unsur eksposif (ledakan).” Omar menyebelah ke Ikrimah. Ikrimah tambah kuat anggukannya. Sementara Asad tampak memikirkan sesuatu dibalik kepalanya yang tergeleng ke kiri.

“oh.. kalau popok berarti sama kencingin duit ya.., hehehe..” kata Asad iseng.
Ikrima hanya diam tak berkomentar. Dia tahu Asad hanya bercanda, bukan serius. Sedangkan teman-temannya tertawa terbahak bahak. Termasuk om Fahmy.

” Cerita api, aku jadi teringat tentang akan adanya api di Yaman” Ikrimah menancapkan pandanganya kedepan.

” Kenapa dengan api itu? Kembang api juga maksudnya?” Tanya Omar

“Bukan, tapi api besar yang akan bersama manusia siang dan malam sampai yang menggiring mereka ke padang pengumpulan. Ini salah satu tanda kiamat besar. Sebagaimana dalam hadits disebutkan

وآخر ذلك نار تخرج من اليمن تطرد الناس إلى محشرهم

Dan akhir dari semua tanda itu adalah api yang keluar dari Yaman, menggiring manusia ke mahsyar mereka. (HR. Muslim 2225)”

” Wah… Kamu ini emang genius ya Ikrimah. Om salut banget sama kamu” om Fahry ternyata ikut menyimak obrolan mereka.

” Om Fahmy tahu juga ya?” Tanya Amaroh tersenyum.

” Iya, om malah baru tahu ketika udah dewasa sekarang, udah jadi pilot.” Om Fahmy berdiri mengepalkan dan mengangkat kedua tangannya sejajar telinga.

” Jadi, api itu nanti membakar kita ya?” Tanya Asad

” Mudah mudahan kita tak termasuk. Api itu hanya menggiring orang orang yang tak memiliki kebaikan sedikit pun ke suatu tempat. Lalu setelah mereka berkumpul akan ditiuplah sangkakala, berakhir kehidupan alam semesta” jelas om Fahmy.

Omar, Asad dan Amaroh tampak khawatir mendengar penuturan Pilot Chameleon itu. Tapi mereka agak lega karena mereka yakin bahwa mereka masih memiliki kebaikan. Mereka segera memanjakan doa perlindungan dari api yang menakutkan itu kepada Allah.